Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label KOMUNIKASI BISNIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOMUNIKASI BISNIS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2015

Pemanfaatan Aplikasi Online Dalam Sistem Pemesanan Sarana Transportasi (Go-jek)

Kehadiran teknologi komunikasi yang semakin canggih membuat masyarakat semakin berinovasi dalam memanfaatkan teknologi komunikasi tersebut. Contohnya  yaitu dengan memanfaatkan teknologi komunikasi sebagai sarana untuk berbisnis. Masyarakat menganggap teknologi komunikasi sangat mempermudah aktivitas mereka terutama dalam hal bisnis. Ada banyak jenis bisnis yang memanfaatkan teknologi komunikasi mulai dari menjual pakaian, sepatu, tas, dan lain-lain. Bahkan baru-baru ini masyarakat di kota Jakarta dimanjakan dengan aplikasi layanan ojek online dan pemesanan taxi secara online. Layanan ini merupakan terobosan baru dalam memesan jasa transportasi di Jakarta.
Terobosan usaha di bidang transportasi ini dimulai beberapa bulan yang lalu. Ide yang sangat cemerlang dari Nadiem Makarim (CEO Go-jek) dalam memanfaatkan teknologi komunikasi banyak dimiliki oleh masyarakat. Transaksi ojek yang biasanya konvensional, saat ini telah di implementasikan dalam aplikasi handphone android, sehingga tukang ojek sebagai vendor dan pelanggan sebagai user, tidak harus bertatap muka untuk transaksi, tapi cukup dengan menggunakan aplikasi di HP mereka. Dan dengan harga perangkat smartphone yang semakin murah, bukan hal aneh jika seluruh vendor ojek memiliki perangkat tersebut, dan bisnis pun berjalan. Layanan yang diberikan pun tidak hanya jasa ojek tetapi juga pengiriman barang, serta jasa jemputan untuk anak sekolah. Tidak hanya itu, para pengguna layanan go-jek ini nantinya akan mendapatkan masker gratis. Para pengendara go-jek pun juga memiliki seragam khusus yang berwarna hijau sehingga dapat menjadi label atau ciri khas dari go-jek itu sendiri.
Go-jek sendiri telah memiliki banyak driver atau karyawan yang bekerja di dalamnya. Go-jek mampu menjaring pekerja dari berbagai kalangan. Bahkan ada pekerja yang sudah memiliki pekerjaan tetap namun mengandalkan go-jek sebagai pekerjaan tambahannya. Potensial bisnis go-jek pun semakin lama semakin menjanjikan ditambah lagi dengan kemacetan kota Jakarta yang menjadikan go-jek sebagai transportasi yang paling ampuh untuk menembus kemacetan dan sampai tepat waktu di tempat tujuan.
Fenomena go-jek di Jakarta membuat masyarakat sangat antusias untuk mencoba aplikasi ini. Dari kalangan bawah hingga kalangan atas pun tak mau ketinggalan mencoba layanan modern ini. Pada awal berjalannya bisnis ini, perusahaan go-jek memberikan harga promo yaitu sebesar sepuluh ribu rupiah kemanapun pergi jauh ataupun dekat. Strategi ini cukup menyita perhatian masyarakat sehingga di awal berjalannya bisnis go-jek, mampu menjaring banyak pengguna. Apalagi gaya hidup masyarakat modern yang tidak mau ribet dan suka pada hal-hal yang praktis semakin menambah nilai go-jek itu sendiri. Di tambah lagi, go-jek memanfaatkan kecanggihan smartphone yang hampir seluruh masyarakat memilikinya terutama di kota Jakarta.
Jika kita amati, perusahaan go-jek merupakan salah satu contoh perusahaan yang solid dimana antar sesama pekerjanya memiliki ikatan kekeluargaan yang tinggi. Hal ini bisa dilihat dari kejadian-kejadian ataupun masalah-masalah yang menimpa go-jek. Seperti kecelakaan yang menewaskan salah satu pengendara go-jek, membuat para pengendara go-jek lainnya turut berempati dan menggelar aksi pengumpulan dana untuk membantu pembiayaan rumah sakit dari anak pengendara tersebut yang terbaring kritis di salah satu rumah sakit. Selain itu, pelayanan yang diberikan oleh go-jek terhadap penggunanya terbilang sangat baik, dimana go-jek memberikan fasilitas masker gratis kepada setiap penggunannya dan datang tepat waktu. Kemudian untuk para pengendaranya, perusahaan go-jek memberikan jaket seragam serta helm yang khusus berlabelkan go-jek dengan warna hijau yang tentunya telah menjadi identitas dari go-jek itu sendiri.
Pelayanan yang baik tidak hanya ditunjukkan dengan fasilitas-fasilitas yang diberikan tetapi juga bagaimana produsen berkomunikasi dengan konsumennya. Komunikasi dapat meningkatkan laba perusahaan dilihat dari fungsi komunikasi dalam meningkatkan goodwill (nama baik), meningkatkan hubungan baik dengan masyarakat, dn meningkatkan fungsi kepemimpinan. Peningkatan goodwill dan hubungan baik dengan masyarakat akan menyebabkan timbulnya kecenderungan konsumen untuk berhubungan lagi dengan perusahaan, yang selanjutnya menimbulkan loyalitas konsumen terhadap perusahaan. Dalam hal ini perusahaan dapat meyakinkan masyarakat luas bahwa konsumen diperlakukan dengan baik melalui pelayanan langsung oleh karyawan.




Kamis, 03 Desember 2015

Konsep Diri Dalam Komunikasi Bisnis

Konsep diri

Konsep diri yang positif merupakan hal penting dalam suatu komunikasi bisnis yang berhasil. Apa yang anda katakan kepada diri anda mengenai diri anda sendiri (komunikasi intrapersona) akan meningkatkan atau mengurangi konsep diri anda. Umpan balik yang datang dari orang lain dapat dirasakan sebagai hal yang positif atau negatif.
Konsep diri merupakan penyaring semua informasi yang datang kepada seorang individu. Semakin realistis dan positif konsep diri tersebut, semakin responsif pegawai tersebut mencari dan menghadirkan umpan balik yang efektif.
Komunikator bisnis membawa konsep diri yang relatif stabil ke dalam presentasi bisnis, wawancara, dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya. Konsep diri yang negatif sulit dimodifikasi. Seseorang yang memiliki pengalaman negatif dalam memproses kesan diri cenderung menemukan isyarat-isyarat negatif dalam lingkungan. Kecenderungan ini disebut ramalan pemenuhan diri (self fulfilling prophery).

Hubungan

Rasa harga diri dan iklim yang mendukung merupakan prasyarat bagi terciptanya suatu hubungan bisnis yang berhasil. Adanya hubungan yang produktif dan profesional dalam lingkungan bisnis merupakan hal penting bagi tim kerja dan akan menimbulkan produktivitas yang efektif.
Untuk menjadi seorang komunikator bisnis yang efektif, haruslah mempertimbangkan komponen pokok hubungan bisnis – kepuasan kebutuhan antarpersona.
William schutz (1966) mengidentifikasi tiga kebutuhan antarpersona dasar: inklusi (dilibatkan), kotrol, dan afeksi (kasih sayang).
·         Seseorang dengan kebutuhan inklusi yang tinggi mencari pengakuan dalam suatu organisasi. Jenis pegawai seperti ini mencari pengakuan berganda. Orang tersebut akan melawan ketakutan dengan memaksa orang lain untuk memberikan perhatian kepadanya.
·         Seseorang dengan kebutuhan inklusi yang rendah mencari lebih sedikit hubungan dan memiliki sedikit kebutuhan mengenai jarak penglihatan. Orang seperti ini mungkin merupakan tipe orang yang mandiri dan mampu bekerja sama dengan baik.

Kebutuhan akan kontrol berhubungan dengan suatu harapan akan kekuasaan, perasaan menjadi seorang pemimpin dan pemegang wewenang yang berhak mengubah lingkungan. Seseorang dengan kebutuhan kontrol yang tinggi berharap menjadi pemimpin. Seseorang yang kebutuhan inklusinya rendah dan kebutuhan kontrolnya yang tinggi mungkin belajar bagaimana memanipulasi orang lain agar memperoleh peluangnya secara tidak langsung. Sseseorang dengan kebutuhan inklusi dan kontrol yang tinggi mungkin berupaya mendominasi situasi secara langsung. Sebaliknya, orang-orang yang kebutuhan kontrolnya rendah dan kebutuhan penerimaan wewenangnya tinggi seringkali merupakan bawahan yang setia.
Kebutuhan yang ketiga memberikan alasan yang penting dalam hal pemilihan hubungan, yaitu kebutuhan akan afeksi (kasih sayang). Afeksi diekspresikan dengan memberikan “belaian” –indikasi verbal dan nonverbal mengenai perilaku pegawai yang dinilai oleh orang lain dalam kelompok kerja. Orang-orang dengan kebutuhan afeksi yang tinggi akan mencari hubungan yang hangat dan intim. Sementara itu, seseorang dengan kebutuhan afeksi yang rendah seringkali menjadi seseorang yang dingin.


Keterbukaan

Hubungan yang kuat dan produktif didasari oleh pemenuhan bersama dalam hal kebutuhan berinteraksi dengan orang lain. Keterbukaan melibatkan penyingkapan terhadap orang lain, pelaporan reaksi untuk menstimuli dengan jujur dan “pemilikan” perasaan.
De Vito (1989) mengatakan, “Kita menginginkan orang-orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita katakanmengharapkannya, dan kita berhak mengharapkannya. Kita menunjukkan keterbukaan dengan memberikan tanggapan secara spontan dan tanpa adanya alasan komunikasi dan umpan balik orang lain” (h.96).

Tingkat penyingkapan

Powell (1969) menyarankan bahwa terdapat tingkat kedalaman dalam komunikasi orang-orang.
·         Tingkat 1, yaitu tingkat komunikasi paling dasar, melibatkan rutinitas atau ritual. Melalui tingkat keterbukaan awal seperti ini kita menegaskan orang lain-kita menyadari kehadiran mereka dan mereka adalah orang-orang dalam lingkungan kita.
Contoh : menanyakan kabar kepada orang lain.
·         Tingkat 2, yaitu komunikasi yang melibatkan percakapan informasi umum, informasi ini tidak rahasia dan tidak mengancam seseorang untuk berbagi informasi.
·         Tingkat 3, yaitukomunikasi yang melibatkan penyingkapan opini, kepercayaan, dan nilai. Seseorang yang bijaksana akan akan membagi informasi yang dimilikinya hanya dengan oranng yang ia percaya. Tingkat pembagian ini merupakan awal hubungan yang dikenal sebagai pesahabatan.
·         Tingkat 4, yaitu komunikasi yang melibatkan perasaan. Gagasan pembagian perasaan pribadi dengan orang lain dapat menjadi suatu ancaman.
·         Tingkat 5, yaitu komunikasi dicadangkan untuk keadaan khusus pada hubungan-hubungan yang khusus. Tingkat ini disebut dengan istilah komunikasi puncak atau komunikasi intim.

Gaya komunikasi organisasional

Keterbukaan merupakan hal yang penting dalam hubungan bisnis yang efektif. Iklim yang diciptakan dalam sebuah organisasi dapat mendorong atau menghambat keterbukaan, bergantung kepada gaya komunikasi ke bawah. Komunikasi ke bawah merupakan alat komunikasi yang digunakan manajemen tingkat atas untuk mengirimkan pesan kepada para bawahan.
Manajemen otokrasi bergantung kepada komunikasi otokrasi yang terdiri dari sejumlah pesan instruksi yang dikirimkan oleh berbagai saluran organisasi. Gaya seperti ini sering digunakan oleh orang-orang tua yang bersifat sangat memerintah untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya. Gaya seperti ini sama sekali tidak terbuka. Suatu gaya yang lebih tepat untuk sebagian besar organisasi adalah gaya demokratik. Di sini, premi ditempatkan di atas persamaan komunikasi relatif. Apa yang dikomunikasikan merupakan suatu pengertian yang nilainya dimiliki oleh setiap orang dan orang yang dapat memberikan informasi.

Tugas dan hubungan

Setiap peristiwa komunikasi meliputi dimensi tugas dan hubungan. Dimensi tugas meliputi faktor-faktor seperti informasi pekerjaan, prosedur organisasi, rencana pemasaran, dan informasi lainnya yang diperlukan untuk melengkapi prosedur pelayanan, penjualan, atau pabrikasi. Dimensi hubungan meliputi fakta-fakta yang menyatakan bahwa kita dianggap memenuhi syarat untuk menjadi ketua tim, dan penyelia memberikan kepercayaan itu kepada kita.

Iklim

Gibb (1961) membagi iklim ke dalam dua kategori yaitu iklim bertahan dan iklim mendukung.
Kreps (1986) menyatakan bahwa iklim organisasi adalah sifat emosional intern organisasi yang didasarka pada bagaimana senangnya para anggota organisasi terhadap satu sama lain dan terhadap organisasi.
Iklim suatu organisasi terutama berkembang dari perilaku dan tindakan manajemen serta iklim ini diperlihatkan oleh perilaku anggota organisasi khusus.

Karakteristik iklim komunikasi yang mendukung karakteristik yang bertahan
Iklim bertahan
Iklim mendukung
·         Evaluasi
·         Kontrol
·         Strategi
·         Kenetralan
·         Keunggulan
·         Kepastian
·         Deskripsi
·         Orientasi masalah
·         Spontanitas
·         Empati
·         Kesamaan
·         Provisionalisme

Komunikasi yang tampaknya bersifat evaluatif, menyalahkan, menimbang, dan sebagainya cenderung meningkatkan sikap bertahan orang-orang.
Evaluasi. Perilaku evaluatif yang negatif seringkali meningkatkan tanggapan bertahan.
Deskripsi. Deskripsi secara sederhana berarti para anggota organisasi memusatkan pesan-pesan mereka pada peristiwa-peristiwa yang dapat diamati dan mengurangi referensi mengenai reaksi-reaksi subjektif atau emosional.
Kontrol/orientasi masalah. Mengendalikan berarti berupaya memanipulasi orang lain, menentukan tingkah laku atau sikap kepada orang lain, atau menghentikan tindakan yang diharapkan orang atau kelompok lain.
Orientasi masalah, merupakan suatu penangkal strategi kontrol dalam suatu organisasi.
Strategi/spontanitas. Perilaku bertahan dirangsang ketika para anggota suatu organisasi menggunakan strategi dalam berkomunikasi dengan anggota yang lainnya.
Kenetralan/empati. Perilaku netral memperlakukan orang lain lebih dari sekedar objek, bukan sebagai manusia.
Keunggulan/kesamaan. Ketidaksamaan merupakan suatu kesan yang patut disayangkan yang tercipta dalam suatu organisasi. Sikapkeunggulan menjadi nyata melalui penggunaan posisi, wewenang, kemampuan intelektual, kekayaan, kekuatan fisik, atau daya tarik untuk memperoleh persetujuan.
Kepastian/provisionalisme. Orang yang bersifat provisional bersedia bersifat sementara dalam penilaian mengenai hal-hal terbaik.
Pada dasarnya, budaya perusahaan merupakan iklim komunikasi. Iklim tersebut menceminkan tingkat kesenangan dalam organisasi.

Gaya manajemen antarpersona

Mcgregor (1960) mempersembahkan suatu pemikiran yang telah menjadi suatu dikotomi klasik antara apa yang ia istilahkan dengan prilaku manajemen teori x dan teori y. Menurut mcgregor, beberapa orang yang menduduki posisi sebagai penyelia (para manajer teori x), melalui perilaku mereka, menyatakan bahwa mereka yakin sebagian besar orang memiliki sifat tidak menyukai pekerjaannya, dan bila mungkin, ingin menghindarinya. Para manajer teori x yakin bahwa tanggung jawabmereka adalah mengendalikan, mengancam, mengarahkan, dan mengatur aktivitas para bawahan. Gaya manajemen teori Y dari mcgregor mencerminkan sekumpulan kepercayaan yang kontras mengenai sifat manusia. Teori Y menyajikan pandangan yang paling positif mengenai hubungan manusia dalam manajemen organisasi yang efektif.
Dwiggins (1986) menggambarkan teori Z dimana suatu transisi dari struktur kekuatan atas-bawah ke struktur yang kekuatan di dalamnya terbagi ke seluruh tingkatan.
Menurut Joiner, sistem manajemen teori Z gaya Jepang harus diperkenalkan melalui serangkaian langkah yang merupakan tujuan yang agung dan bermanfaat, yaitu:
1.      Membangun sebuah tim manajemen terpadu
2.      Menciptakan dan mengkomunikasikan arah masa datang
3.      Menentukan sistem penyokong antarperusahaan yang kuat
4.      Menciptakan struktur organisasi yang partisipatif

Motivasi Dalam Organisasi

Herzberg (1966) memperkenalkan teori motivasi dua faktor. Menurutnya, faktor-faktor yang sering membuat frustasi para pegawai tidak sama dengan faktor yang menyebabkan motivasi. Ia mengamati bahwa dua jenis kebutuhan yang berbeda harus dipenuhi dengan cara yang sangat berbeda agar terjadi kepuasan dan motivasi dalam organisasi bisnis.
Herzberg (1987) juga memperkenalkan teori motivasi-dasar dimana para pegawai di seluruh dunia temotivasi oleh kebutuhan sifat dasar mereka sendiri utuk berhasil dalam tugas-tugas yang menantang, bukan termotivasi oleh keuntungan yang lebih besar, simbol status baru, atau upah yang lebih tinggi.

Teori Manajemen Antarpersona Lain

Bale dan Mouton (1964, 1991) menjelaskan bahwa para manajer dapat dikategorikan berdasarkan pada cara mereka berinteraksi dengan para pegawai yang berkaitan dengan dua masalah utama yaitu perhatian terhadap produksi dan perhatian terhadap orang-orang.
Para teoritikus mengidentifikasi lima gaya kepemimpinan yang ditentukan oleh tinggi-rendahnya perhatian manajer, baik terhadap produksi maupun terhadap orang-orang. Kelima gaya tersebut adalah:
·         Gaya manajemen miskin : jenis pemimpin ini tidak peka terhadap kebutuhan orang-orang atau organisasi dan melepaskan wewenang kepada orang lain.
·         Gaya country club : pemimpin menaruh perhatian yang tinggi terhadap orang-orang namun perhatiannya rendah terhadap tugas.
·         Gaya pemenuhan wewenang : pemimpin memiliki perhatian yang tinggi terhadap tugas namun rendah terhadap orang-orang.
·         Gaya pertengahan jalan : pemimpin menaruh perhatian yang seimbang antara penyelesaian tugas dan orang-orang.
·         Gaya kepemimpinan kelompok : pemimpin  tertarik pada pembuatan keputusan yang efektif yang akan membantu pencapaian tujuan organisasi dan mencerminkan gagasan dan tujuan para anggota organisasi.

Kekuasaan dan Konflik

Kekuasaan merupakan suatu pengaruh yang mengakui bahwa seseorang memiliki kekuasaan terhadap orang lain dan bedasar pada ketergantungan orang lain. Apabila terjadi persaingan kekuasaan dalam suatu organisasi, maka muncullah konflik.
Filley (1975) mengidentifikasi empat keuntungan utama konflik :
1.      Banyak situasi konflik memiliki efek penyebaran konflik yang lebih serius. Ketidaksetujuan yang muncul seringkali mengurangi berbagai kemungkinan yang ada sehingga timbullah berbagai konflik yang lebih besar.
2.      Situasi konflik menuntun kita untuk memperoleh informasi baru, cara-cara baru dalam memandang sesuatu.
3.      Konflik antarkelompok bertujuan untuk meningkatkan kepaduan kelompok.
4.      Konflik memberikan peluang kepada para individu atau kelompok untuk mengukur kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan mereka karena peluang tersebut berada dalam situasi konflik sehhingga kualitas pada situasi itu dapat digerakkan ke puncak karier mereka.

Manajemen konflik

De Vito menggambarkan model humanistis dari suatu komunikasi antarpersona yang efektif. Yaitu :
1.      Keterbukaan, pernyataan pikiran dan perasaan secara terbuka, langsung dan jujur.
2.      Empati, pengesahan perasaan orang lain.
3.      Sikap mendukung, perhatian yang logis terhadap masalah, spontan, dan berempati.
4.      Sikap positif, upaya untuk mengadakan situasi win-win.
5.      Kesamaan, pemberian waktu yang sebanding kepada pihak lain pada saat pengungkapan perhatian.

Rabu, 02 Desember 2015

Komunikasi Verbal dan Nonverbal Dalam Komunikasi Bisnis




Komunikasi terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dimana saja dan kapan saja. Seolah telah menjadi kebutuhan pokok, komunikasi tak bisa lepas dari segala macam jenis kegiatan manusia karena dengan berkomunikasilah semua pesan dapat tersampaikan. Komunikasi menyentuh segala aspek kebutuhan kita. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 70% waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Komunikasi tidak hanya dilakukan dalam kegiatan personal namun juga dalam kegiatan bisnis, hal tersebut dikenal dengan komunikasi bisnis.
Untuk menunjang terciptanya komunikasi bisnis yang efektif, ada dua bentuk komunikasi yang lazim digunakan oleh para komunikator maupun komunikan yaitu komunikasi verbal dan nonverbal.
Komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi yang pesannya disampaikan melalui tulisan maupun lisan. Penyampaian pesan melalui komunikasi verbal lebih terarah dan terstruktur sehingga lebih mudah dipahami oleh para komunikan.
Komunikasi verbal melalui tulisan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya yaitu membuat dan mengirim surat kerja sama bisnis seperti surat penawaran barang kepada pihak lain, surat pengantar barang ke suatu perusahaan, surat pemesanan barang kepada pihak lain, surat permintaan barang kepada pihak lain, surat penolakan kerja, surat penerimaan kerja, surat pemberitahuan ke media massa, surat ucapan terimakasih maupun berdukacita kepada mitra kerja dan masih banyak lagi. Dalam komunikasi bisnis, tulisan yang buruk tidak hanya mencerminkan sikap yang buruk, tetapi juga mencerminkan bisnis yang buruk. Surat yang tidak rapih akan memberikan reputasi serta image yang buruk bagi perusahaan tersebut. Beberapa orang beranggapan bahwa surat yang baik harus menggunakan bahasa yang baku dan tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, padahal penggunaan kalimat pada surat kerja sama bisnis banyak diadopsi dari gaya bicara sehari-hari. Gaya bahasa yang tepat dalam surat bisnis akan mempermudah terjalinnya komunikasi yang intens antar instansi yang bersangkutan. Tidak hanya melalui surat, penyampaian pesan secara tulisan juga dapat dilakukan dengan menggunakan memo, teknologi komunikasi modern seperti SMS, e-mail, pesan melalui dunia maya dll.
Komunikasi verbal melalui lisan diantaranya adalah rapat kerja, diskusi dalam suatu tim kerja, wawancara kerja dengan para pelamar kerja di suatu perusahaan, briefing karyawan, presentasi proposal dll. Melalui komunikasi secara lisan atau tertulis diharapkan orang dapat membaca atau mendengar apa yang dikatakan dengan baik dan benar.
Sementara itu, yang dimaksud dengan komunikasi nonverbal adalah suatu interaksi yang dilakukan dengan gerak tubuh, serta ekspresi wajah. Menurut Edward Saprl, komunikasi nonverbal sendiri merupakan sebuah kode yang luas yang tidak ditulis dimanapun juga, diketahui oleh tidak seorang pun dan dimengerti oleh semua. Dalam komunikasi nonverbal orang dapat mengambil suatu kesimpulan tentang berbagai perasaan orang baik rasa senang, benci, cinta, rindu dan berbagai macam perasaan lainnya. Lagi pula, komunikasi nonverbal berbeda dengan komunikasi verbal didalam cara yang cukup mendasar. Contoh perilaku yang menunjukkan komunikasi nonverbal dalam komunikasi bisnis yaitu menganggukkan kepala ketika menyetujui suatu pernyataan, menggelengkan kepala ketika tidak setuju, memberi senyuman ketika bertemu klien, berjabat tangan untuk menunjukkan rasa penghormatan, mengerutkan dahi ketika sedang berpikir keras, dan masih banyak lagi. Komunikasi nonverbal hampir tidak ada atau tidak ada sama sekali struktur formal yang mengarahkan komunikasi. Kebanyakan komunikasi nonverbal terjadi secara tidak disadari, tanpa urut-urutan kejadian, yang dapat diramalkan sebelumnya. Tanpa pola yang jelas, perilaku nonverbal yang sama dapat memberi arti yang berbeda pada saat yang berlainan.
Komunikasi nonverbal juga mempunyai peranan yang penting dalam dunia bisnis. Ia dapat membantu menentukan kredibilitas dan potensi kepemimpinan seseorang. Jika seseorang dapat belajar mengelola kesan yang telah dibuat dengan bahasa isyarat, karakteristik atau ekspresi wajah, suara dan penampilan, maka seseorang akan dapat melakukan komunikasi dengan baik. Dengan kata lain, seorang manajer (pemimpin) sekaligus harus dapat menjadi komunikator yang baik. Ia harus tahu bagaimana menyampaikan pesan-pesan bisnisnya kepada para bawahannya, pada saat kapan suatu pesan-pesan bisnis itu harus disampaikan, dan kepada siapa pesan-pesan bisnis itu harus disampaikan  
Meskipun komunikasi verbal dan nonverbal memiliki perbedaan-perbedaan, namun keduanya dibutuhkan untuk berlangsungnya tindak komunikasi yang efektif. Fungsi dari lambang-lambang verbal maupun nonverbal adalah untuk memproduksi makna yang komunikatif. Secara historis, kode nonverbal sebagai suatu multi saluran akan mengubah pesan verbal melalui enam fungsi: pengulangan (repetition), berlawanan (contradiction), pengganti (substitution), pengaturan (regulation), penekanan (accentuation) dan pelengkap (complementation). Dalam tahun 1965, Paul Ekman menjelaskan bahwa pesan nonverbal akan mengulang atau meneguhkan pesan verbal. Misalnya dalam suatu lelang, kita mengacungkan satu jari untuk menunjukkan jumlah tawaran yang kita minta, sementara secara verbal kila mengatakan "satu'. Pesan-pesan nonverbal juga berfungsi untuk mengkontradiksikan atau menegaskan pesan verbal seperti dalam sarkasme atau sindirian-sindiran tajam. Kadang-kadang, komunikasi nonverbal mengganti pesan verbal. Misalnya, kita tidak perlu secara verbal menyatakan kata "menang", namun cukup hanya mengacungkan dua jari kita membentuk huruf `V' (victory) yang bermakna kemenangan. Fungsi lain dari komunikasi nonverbal adalah mengatur pesan verbal. Pesan-pesan nonverbal berfungsi untuk mengendalikan sebuah interaksi dalam suatu cara yang sesuai dan halus, seperti misalnya anggukan kepala selama percakapan berlangsung. Selain itu, komunikasi nonverbal juga memberi penekanan kepada pesan verbal, seperti mengacungkan kepalan tangan. Dan akhirnya fungsi komunikasi nonverbal adalah pelengkap pesan verbal dengan mengubah pesan verbal, seperti tersenyum untuk menunjukkan rasa bahagia kita.





Contoh Surat Aduan



ORGANISASI PECINTA LINGKUNGAN
Jl. Bhayangkara No. 8 Bengkulu


Bengkulu, 29 Oktober 2015
Kepada
Yth. Manajer CV Pelangi
Jl. Padang Harapan no. 11
Bengkulu

Dengan Hormat,
Sehubungan dengan telah diadakannya acara “Pemutaran Film Perjuangan” dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2015 di Taman Segitiga kota Bengkulu, kami selaku Organisasi Pecinta Lingkungan sangat mengapresiasi dengan baik acara tersebut yang tentunya dapat meningkatkan rasa nasionalisme para pemuda/pemudi di Bengkulu.
Namun, ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan mengenai ketidakpuasan kami terhadap acara tersebut dalam kacamata kami sebagai Organisasi Pecinta Lingkungan.
1.  Acara yang diselenggarakan di Taman Segitiga kota Bengkulu tersebut telah merusak beberapa tanaman yang berada di pinggir taman, diantaranya adalah tanaman euphorbia, mawar, asoka, dan bugenvil.
2.      Banyaknya sampah yang berserakan pasca acara.
3.      Adanya beberapa pohon yang ditebas rantingnya demi keperluan sound system acara.
Kami berharap CV. Pelangi selaku Event Organizer (EO) dari acara tersebut dapat bertanggung jawab dan memperbaiki beberapa kerusakan yang terjadi di Taman Segitiga kota Bengkulu tempat berlangsungnya acara mengingat Taman Segitiga merupakan salah satu ikon dari kota Bengkulu.
Demikian yang dapat kami sampaikan, atas perhatian saudara/i kami ucapkan terimakasih.

Hormat Saya,


Endah Kusuma Ningrum

Ketua Organisasi Pecinta Lingkungan